Jumat, 03 Desember 2010

Peranan olahraga usia dini

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pendidikan jasmani adalah bagian integral dari pendidikan secara total yang berkontribusi pada perkembangan individual melalui media alamiah aktivitas jasmani—gerak insani. Pendidikan jasmani adalah urutan pengalaman belajar yang direncanakan secara seksama, dirancang untuk memenuhi perkembangan dan pertumbuhan, dan kebutuhan perilaku setiap anak. Pendidikan Jasmani dimulai dari usia yang sangat dini, dalam merangsang pembentukan pertumbuhan organic, motorik, intelektual dan perkembangan emosional.

Pendidikan Usia Dini adalah salah satu hal penting untuk membekali anak menghadapi perkembangan masa depan. Untuk itu proses stimulasi atau pembelajaraan yang bermakna sangat menentukan terwujudnya manusia yang berkualitas. Anak perlu mendapatkan stimulasi atau pembelajaran pengamatan serta pengetahuan tentang hal-hal yang akan diperlukan dalam kehidupanya.Tuntutan zaman yang semakin besar terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi dan komunikasi, membuat Pendidikan Anak Usia Dini tidak mungkin hanya didapat dari keluarga saja.

Pada keyatannya banyak orangtua yang belum mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki anaknya, sehingga hanya bersifat merawat secara fisik dan memberikan sejumlah asupan yang dibutuhkan oleh si anak, tetapi kurang dalam memberikan stimulasi edukasi. Karena adanya pergeseran dalam kehidupan sosial dimana banyak ibu bekerja dengan alasan ingin membantu suami dengan mencari nafkah atau sekedar ingin mencari kesibukan dan bosan dirumah, seringkali menganggap enteng terhadap pendidikan anak-anaknya. Kehadiran Pendidikan Anak Usia Dini memberi arah tersendiri bagi perkembangan anak usia dini terutama dalam sosialisasinya dan tututan ini pulalah yang membuat kebijaksanan untuk memanfaatkan Pendidikan Usia Dini (PAUD).

Dari naluri mendidiknya Ki Hajar Dewantara, mengatakan beliau sangat menyakini bahwa suasana pendidikan yang baik dan tepat adalah dalam suasana kekeluargaan dan dengan prinsip asih(mengasihi), asah(memahirkan), dan asuh(membimbing). Tiga aspek tersebut akan memberi corak bagi seorang anak terhadap prilaku (behavior), sikap (attitude) dan nilai (velue). Seperti halnya teori Karl Groos, Yang teorinya bernama teori biologis mengatakan “ Anak-anak bermain oleh karena anak-anak harus mempersiapkan diri dengan tenaga dan pikirannya untuk masa depanya. Seperti halnya dengan anak-anak binatang, yang bermain sebagai latihan mencari nafkah, maka anak manusia pun bermain untuk melatih organ-organ jasmani dan rohaninya untuk menghadapi masa depanya ”.

Melalui program stimulasi pendidikan, anak sedini mungkin diperkenalkan berbagi hal, tentang benda dan orang-orang disekitarnya. Pengenalan berbagai pola, sikap dan perilaku, kebiasaan dan sifat orang-orang yang ada disekitarnya akan membantu anak memahami aspek-aspek psikologi dari lingkungan sosialnya. Setiap anak ditakdirkan memiliki tingkat intelektual, watak, profesi dan bakat yang berbeda-beda.

Peran Pendidikan tidak terpaku pada pendidikan formal saja tetapi pendidikan informal berperan penting dalam menunjang kehidupan anak mendatang. Pendidikan merupakan tanggung jawab universal setiap orang atas kondratnya. Pendidikan Olahraga Usia Dini sebagai pendidikan informal berperan penting dalam tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun mental. Pendidikan Olahraga Usia Dini yang berperan penting dalam tumbuh kembang anak, dari aktivitas bermain yang membentuk keterampilan motorik dan neuromuskuler. Anak dapat menguasai dasar keterampilan lokomotor, non-lokomotor serta keterampilan manipulasi.

Peranannya begitu kuat, paling tidak ada tiga hal dalam menunjang perkembangan anak yaitu, fungsi Adaptasi, fungsi Pengembangan, dan fungsi Bermain atau aktivitas fisik. Melalui Pendidikan Olahraga Anak Usia Dini yang telah berperan dalam perkembangan anak, penulis tertarik untuk mencoba menulis Peranan Olahraga Usia Dini.

2. Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut : Peranan Olahraga Usia Dini terhadap perkembangan fisik anak.

3. Tujuan

Bertujuan mengetahui seberapa besar peranan olahraga usia dini.

PEMBAHASAN

Komponen utama sebagai tujuan yang sangat penting dalam peranan olahraga usia dini, yakni :

1. Rangsangan pertumbuhan dan perkembangan organik,

2. Keterampilan neomaskular motorik,

3. Perkembangan intelektual,

4. Perkembangan emosional.

1. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ORGANIK

Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah sel yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Sedangkan, perkembangan adalah perubahan atau diferensiasi sel menuju keadaan yang lebih dewasa.

Aktivitas yang bersemangat, teratur serta terus menerus sangat penting bagi mempertebal lapisan persendian, memperkuat pengikat ke tulang, serta pengikat tulang-tulang dalam tubuh. Sehingga kemampuan paru-paru, jantung dan saluran darah dalam menyuplai oksigen ke jaringan-jaringan. Dengan aktivitas gerak seperti lari, renang, lompat, dan sebagainya. Fleksibilitas dilakukan dengan peregangan sederhana secara dinamis dan statis. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan sel-sel dapat berkembang secara optimal dengan malakukan aktivitas fisik tersebut.

2. KETERAMPILAN NEUROMUSKULER / MOTORIK

Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Perkembangan motorik anak dibagi menjadi dua :

1. Keterampilan gerak kasar

Pada usia dini diharapkan telah mampu melakukan gerakan-gerakan motorik kasar seperti, menurunkan tangga langkah demi langkah, tetap seimbang ketika berjalan mundur, berlari dan langsung menendang-nendang bola, melompat-lompat dengan kaki bergantian, melompati selokan selebar setengah meter dengan satu kaki, berjinjit dengan tangan di pinggul, melambungkan bola tenis dengan satu tangan dan menangkapnya dengan menggunakan dua tangan, menyentuh jari kaki tanpa menekuk lutut, mengendarai sepeda roda tiga dan membuat belokan tajam dengan sepeda roda tiga, dan memanjat.

Melalui permainan aktivitas fisik keterampilan motorik anak akan berkembang dengan baik, dalam keseimbangan dan kekuatan fisik serta kecekatan dan kecepatan gerak. Di samaping hal ini, sebagai guru kita harus memperhatikan anak dalam kegiatan yang dilakukan. Anak-anak belum menyadari seberapa besar bahaya yang ada disekitarnya, maka dari itu sebagai guru harus member peringatan dan mengawasi langsung pada saat anak bermain.

2. Motorik Halus

Motorik halus adalah aktivitas motorik yang melibatkan aktivitas otot-otot kecil atau halus; gerakan ini lebih menuntut koordinasi mata dan tangan dan kemampuan pengendalian yang baik, yang memungkinkannya untuk melakukan ketepatan dan kecermatan dalam gerakan-gerakannya. Yang termasuk gerakan motorik halus ini antara lain adalah kegiatan mencoret, melempar, menangkap bola, meronce manik-manik, menggambar, menulis, menjahit dan lain-lain. Keterampilan ini berkembang lebih lambat dibandingkan dengan keterampilan motorik kasar karena memang tuntutannya lebih tinggi.

3. PERKEMBANGAN INTELEKTUAL

Pendidikan jasmani juga bermanfaat untuk perkembangan intelektual. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan kepada anak untuk bergerak mengekspersikan dirinya, meneriakan suara sesuai dengan gerakan yang dilakukan. Pendidkan jasmani membantu memelihara kesimbangan psikologi anak. Penelitian di Negara luar menunjukan bahwa tamabahan jam pelajaran pendidikan jasmani meningkatkan kemampuan akademik para siswa secara nyata.

4. PERKEMBANGAN EMOSIONAL PRIBADI DAN SOSIAL

Pendidikan jasmani berguna bagi perkembangan pribadi dan social yang menuntut upaya individu dan interaksi dengan yang lain. Menyenangi dan sukses dalam aktivitas fisik akan menigkatakan kepercayaan diri dan kesadaran sosial. Damon & Hart, 1982 (Petterson 1996) menyatakan bahwa kemampuan fisik berkaitan erat dengan self -image anak. Anak yang memiliki kemampuan fisik yang lebih baik di bidang olahraga akan menyebabkan dia dihargai teman-temannya.

Hal tersebut juga seiring dengan hasil penelitian yang dilakukan Ellerman, 1980 (Peterson, 1996) bahwa kemampuan motorik yang baik berhubungan erat dengan self-esteem. Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan. Semua organ ini terbentuk pada periode prenatal (dalam kandungan).

ASPEK PSIKOLOGIS YANG BERPERAN PADA OLAHRAGA USIA DINI

Setelah anak berusia 5 tahun, mereka mulai dapat dikenalkan dengan jenis olahraga permainan yang lebih kompleks, yang melibatkan kerjasama dan kompetisi. Namun perlu diperhatikan disini, kompetisi dimaksud haruslah tetap berada dalam konteks bermain. Untuk mulai menerapkan olahraga yang memiliki aturan formal, sebaiknya tunggu sampai anak berusia 8 atau 9 tahun. Dalam olahraga kompetitif, pemain bukan hanya berusaha mencapai targetnya tapi juga berusaha mencegah lawan mencapai target mereka. Hal ini melibatkan konflik langsung yang seringkali diikuti dengan agresivitas dalam usahanya mencegah lawan mencapai sukses.

Dalam olahraga usia dini, target yang harus dicapai anak adalah menerapkan sebaik mungkin keterampilan dan kemampuan yang sudah dilatih ke dalam pertandingan. Adalah besarnya usaha dan peningkatan pribadi yang seharusnya dihargai dan menjadi target bagi setiap anak, bukannya semata-mata mencapai kemenangan dalam pertandingan. Tujuan melibatkan anak dalam aktivitas olahraga adalah sebagai pengenalan pengalaman berolahraga, meningkatkan ketrampilan fisik, membangun keprcayaan diri.

Dalam masa ini, yang diperlukan anak adalah kegembiraan dalam melakukan latihan olahraga. Oleh karena itu pelatihnya tidak perlu menekankan pada penguasaan teknik atau peraturan pertandingan. Pujian atau hadiah diberikan kepada usaha yang dilakukan anak, bukan terhadap hasil akhir. Disini perlu ditanamkan perasaan “mencapai sukses” bukan hanya sebagai juara, tetapi juga sebagai partisipan. Oleh karena itu, penting sekali di masa awal ini setiap partisipan dalam suatu kejuaraan bisa mendapatkan penghargaan. Persiapan mental dalam menghadapi pertandingan juga merupakan hal yang perlu diperhatikan. Utamanya anak perlu dibiasakan berfikir positif, diberi keyakinan bahwa dalam pertandingan nanti dirinya mampu menampilkan keterampilan yang telah dilatihnya.

Oleh karena itu beberapa latihan keterampilan psikologis seperti latihan relaksasi, latihan konsentrasi dan latihan imajeri perlu diajarkan. Sehingga, anak dapat berfikir positif dalam setiap pertandingan, tidak merasa tegang dan khawatir akan kekalahan. Dengan keterampilan psikologis yang baik, anak dapat mengatasih hal-hal yang akan terjadi dalam pertandingan. Peranan Olahraga usia dini sebagai pembentuk dasar dalam membina atlit usia lanjut, dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi Olahraga Nasional maupun Internasional.

PENUTUP

Usia terbaik untuk melakukan stimulasi pada anak adalah sedini mungkin. Hasil yang optimal akan didapat bila anak sudah diberikan rangsangan tumbuh kembang saat ia masih di dalam kandungan usia 4 bulan dan setelah lahir hingga ia berusia 6 tahun. Namun pemberian rangsangan tumbuh kembang perlu dilanjutkan setelah anak berusia 6 tahun hingga usia 8 tahun. Tumbuh kembang menekankan pada 4 aspek kemampuan dasar anak yang perlu mendapatkan rangsangan yaitu: kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan berbahasa, serta kemampuan bersosialisasi (berinteraksi) dan kemandirian.

Setelah anak berusia 5 tahun, mereka mulai dapat dikenalkan dengan jenis olahraga permainan yang lebih kompleks, yang melibatkan kerjasama dan kompetisi. Dalam masa ini, yang diperlukan anak adalah kegembiraan dalam melakukan latihan olahraga. Setelah mereka beranjak dewasa baru lah diberikan latihan-latihan sesuai dengan proporsinya. Peranan Olahraga usia dini sebagai pembentuk dasar dalam membina atlit usia lanjut, dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi Olahraga Nasional maupun Internasional.

REFERENSI

1. http://www.infodokterku.com/index.php?option=com_content&view=article&id=91:pentingbya-stimulasi-anak-usia-dini-aud&catid=36:yang-perlu-anda-ketahui&Itemid=28. Diakses tanggal 06 Oktober 2010.

2. www.koni.or.id/.../2.%20Pembinaan%20Mental%20Atlit%20usia%20dini%20. Diakses pada tanggal 06 Oktober 2010.

3. Harsuki, Dr. (2003). Perkembangan Olahraga Terkini Kajian Para Pakar. Jakarta : PT.

Raja Grafindo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar