Rabu, 14 Maret 2012

athletic injuries and psychology

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Olahraga erat kaitannya dengan cidera, seperti yang dialami oleh salah satu pemain sepak bola ( Millard). Millard mengalami cidera lutut yang sangat serius karena takel dari lawan, ini terjadi di awal musim sepak bola. Pada saat mengalami cidera Millard berpikir atau merasa karirnya di dunia sepak bola telah berakhir, tidak mau makan dan pada saat mendapat kunjungan dari tim lawan yang menekelnya, Millard menolaknya. Millard pun pulih dan bermain lagi, tetapi reaksi setelah pulih memperlihatkan bahwa Millard terluka secara psikologis. Cidera yang dialami oleh Millard ini dapat dialami oleh semua atlet, olahragawan, atau penari atau bahkan pelatih olahraga.

Faktor fisik merupakan penyebab utama cidera olahraga, tetapi faktor psikologis juga dapa berkontribusi. Faktor psikjologis mempunyai peran penting dalam masa rehabilitasi cidera. Dengan demikian perlu dipahami reaksipsikologis cidera dan cara-cara memfasilitasi masa pemulihan. Selain faktor fisik yang dapat menyebabkan cidera yaitu stres, adanya kompetisi, penampilan yang buruk, hal ini tergantung atlet dalam melihat situasi ini. Adanya kecemasan juga dapat membuat cidera, kecemasan dapat merubah focus atau perhatian dan ketegangan otot. Faktor psikologis tidak hanya stres yang dapat menyebabkan cidera, faktor kepribadian, riwayat stres, dan semua faktor yang mempengaruhi proses stres, yang kemungkinannya dapat menyebabkan cidera.

  1. Rumusan Masalah

1. Bagaimana cidera terjadi?

2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi cidera?

3. Bagaimana reaksi psikologis atlet yang mengalami cidera?

4. Bagaimana peran psikologi olahraga selama masa rehabilitasi?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Bagai mana cidera terjadi

Faktor fisik sepeti, ketidak seimbangan otot, benturan dengan kecepatan tinggi, overtraining, dan kelelahan fisik. Adalah penyebab utama terjadinya cidra dalam latihan dan olahraga. Bagaimana pun juga faktor psikologi juga mempunyai peran seperti. Telah di identifikasi oleh Rotela dan teman-teman, faktor kepribadian, level stress dan beberapa sikap tertentu adalah penyebab terjadinya cidera. Sebuah penelitian terbaru, hampir 18 % waktu hilang karena masalah cidera.

  1. Faktor kepribadian

Faktor kepribadian adalah faktor yang pertama yang berhubungan cidera atlet. Para peneliti ingin memahami apakah konsep diri, pengaruh dari dalam-luar dan berpikir keras sangat berhungn dengan cidera. Atlet yang mempunyai konsep diri yang rendah mudah terjadi cidera dibandingkan yang mempunyai konsep diri tinggi. Penelitian terbaru menunjukan bahwa faktor pesonaliti seperti optimisme, percaya diri, ketabahan dan kecemasan berperan dalam cidera atlet.

  1. Tikatan Stress

Tikatan stress telah diidentifikasi juga berperan penting dalam cidera atlet. Penelitian telah membuktikan hubungan antara tekanan hidup dan tingkat cidera. Pengukuran tingkat stres ini di fokuskan pada perubahan hidup,contohnya putus cinta, pindah ke kota baru, menikah atau perubahan status ekonomi. Secara keseluruhan bukti-bukti menunjkan bahwa atlet dengan pengalaman tekanan hidup yang lebih tinggi lebih sering cidera dibandingkan atlet dengan tekanan hidup yang lebih rendah. Sebaiknya para instruktur profesional sebaiknya memahami perubahan ini, secara hati-hati memonitor dan memberikan pelatihan hidup secara psikologis.

Penelitian juga telah mengidentifikasi stress muncul pada atlet ketika cidera dan ketika di rehabiitasi saat cidera. Contohnya kurannya perhatian, terisolasi. Teknik management pelatihan stress tidak hanya menolong atlet dan instrutur lebih efektif secara penampilan tetapi juga mungkin menghindari resiko mereka cidera dan sakit.

  1. Hubungan antara Stress dan Cidera

Ada dua teori yang akan menjelaskan hubungan antara stress dan cidera.

1. Perhatian yang tergangu

Satu hal yang pasti adalah bahwa stress akan mengangu perhatian seorang atlit denga kurangnya perhatian dari sekelilingnya. Contohnya seorang quaterback dibawah tekanan stress berkemungkinan cidera karena dia tidak melihat pemain bertahan lainnya berlari di depanya sehingga off side. Ketika tingkataan stressnya lebih rendah, seorang quarterback akan mempunyai lapangan yang lebih luas dari perhatian sekelilingnya dan dapat melihat pemain bertahan lainnya dan mengurangi resiko cidera

Telah ditemukan juga bahwa peningkatan tingkat kecemasan disebabkan oleh pikiran, contohnya seorang eksekutif yang melakukan joging pada saat makan siang setelah bertengkar dengan teman sejawatnya berkemungkinan untuk terpelosok ke dalam lubang atau kena cedera keseleo pergelangan kaki.

2. Ketegangan Otot

Stress tingkat tinggi dapat timbul bersamaan dengan ketegangan otot yang bertentangan dengan kondisi normal dan meningkatkan peluag untuk cidera. Guru dan pelatih yang berkerja dengan seorang atlet yang kehidupannya mengalami perubahan (seorang siswa yang orang tuanya bercerai), sebaiknya sangat memperhatikan sikap atlit tersebut , jika menunjukan tanda-tanda ketegangan otot atau sulit untuk fokus ketika tampil, adalah hal yang bijak diberikan pelatihan stress.

Psikologi yang lain pejelasan tentang cidera.

Hal lain yang menyebabkan stress menurut ahli psikologi adalah beberapa sikap para pelatih, seperti “act tough and always give 110% atau “jangan menerima apa adanya dan selalu memberikan 110%” jika kamu cidera kamu tidak berharga, sikap-sikap ini berkemungkinan menyebabkan atlet cidera.

1. Act Tough and give 110%

Semboyan atau slogan seperti berusaha keras atau pulang, tidak sakit tidak ada penghargaan, pergi untuk bertempur adalah ucapan-ucapan pelatih untuk menyemangati. Para pelatih memaksa atlit-atlit meraka bekerja keras atau selalu mengambil resiko. Seharusnya kata-kata ini tidak ditekankan terlalu sering, sehingga atlet siap mengambil resiko, seperti menekel lawan dalam sepakbola sehingga terjadi cidera.

2. Jika kamu cidera kamu tidak berharga

Beberapa orang merasa tidak berharga ketika mereka terluka, sikap ini berkembang melalui beberapa hal. Pelatih boleh menyampaikan, menyadarkan bahwa menang adalah lebih penting di bandingkan kesejahteraan atlet. Ketika seorang pemain atau atlet cidera, tidak memberikan kontribusi untuk menang. Atlet yang cidera terkadang bernmain sehingga cideranya semakin parah.

C. Reaksi psikologis atlet yang cidera

Cidera tidak dapat di pisahkan dari aktifitas fisik, meski pun memiliki staf yang baik, peralatan yang lengkap, resiko cidera tidak dapat di pisahkan. Ahli psikologi, pelatih atlet mengidentifikasi beberapa reaksi psikologis akibat cidera. Cidera dapat diartikan sebagai waktu untuk istirahat dari aktifitas latihan. Olahragawaan dan instruktur kebugaran harus mengamati beberapa respon/tangapan dari cidera.

1. Tanggapan emosioanal

Reaksi pertama atlet yang mengalami cidera digambarkan seperti akan menghadapi kematian. Setelah itu megalami reaksi kesedihan yang ditandai dengan lima tahapan kesedihan:

· Penolakan

· Kemarahan

· Untung atau tidak (menawar)

· Depresi

· Menerima dan menyusun lagi

Atlit yang mengalami cidera menunjukan reaksi kesedihan, sebagai reaksi emosional, akan tetapi terkadang tidak mengikuti atau sesuai tahapan di atas. Berikut tiga reaksi secara umum atlit yang mengalami cidera

· Pengolahan informasi relevan cidera

Atlet yang cidera fokus pada informasi yang terkait dengan cideranya, kesadaran tingkat cidera, bagai mana cidera itu terjadi dan konsekuesi negative atau ketidak nyamanan

· Pergolakan emosi dan perilaku reaktif

Atlet menyadari bahwa dia cidera, menjadi gelisah, bimbang, merasa emosional, terisolasi dan merasa shock, tidak percaya, menolak dan merasa kasihan/mengkasihani diri sendiri.

· Harapan positif dan penerimaan

Atlet menerima cidera akan memiliki sikap yang baik dan optimis. Penerimaan atas kondisi cidera ini masing-masing atlet bervariasi, ada yang dalam sehari dan ada yang berminggu-minggu atau bahkan beberapa bulan.

2. Tanggapan yang lain atau reaksi lain

Reaksi tambahan psikologis atlet yang mengalami cidera, antara lain

· Kehilangan identitas.

Beberapa atlet yang tidak dapat berpartisipasi karena cidera kehilangan identitas pribadi. Artinya, bagian penting dari diri mereka hilang, dan mempengaruhi kosep diri.

· Ketakutan dan kecemasan

Ketika cidera, banyak atlet mengalami ketakutan dan kecemasan tingkat tinggi. Mereka kawatir apakah mereka akan pulih, apakah akan kembali cidera, apakah seseorang yang mengatikan mereka permanen dalam lineup. Karena atlet tidak bisa berlatih dan bersaing, ada banyak waktu untuk kawatir.

· Kurangnya kepercayaan diri.

Mengingat ketidak mampuan untuk berlatih dan bersaing, dan status memburuk fisik mereka, atlet kehilangan kepercayaan setelah cidera. Menurunnya kepercayaan dapat berakibat penurunan motivasi, penurunan penampilan, atau cidera bertambah jika atlet berlebihan (kurang kepercayaan).

· Penurunan penampilan.

Karena penurunan kepercayaan dan kehilangan waktu latihan, atlet mengalami penurunan penampilan. Banyak atlet mengalami kesulitan menurunnya harapan setelah cidera dan mungkin berharap untuk kembali ke level penampilan sebelum cidera.

3. Tanda saat cidera

Tangapan orang (atlet) pada saat cidera menunjukan emosi negatif, namun mereka tidak kesulitan dalam menghadapinya. Berikut tanda emosional atlet pada saat cidera.

· Perasaan marah dan kebingungan

· Obsesi dengan pertanyaan tentang kapan bisa kembali bermain

· Penolakan (misal, cidera adalah bukan masalah besar)

· Ingin segera kembali dan megalami sebelum cidera

· Berkata berlebihan tentang keberhasilan

· Mengeluh

· Merasa bersalah membiarkan tim terpuruk

· Menarik diri dri orang lain

· Cepat berubah suasana hati

· Pernyataan yang menunjukan bahwa tidak peduli apa yang dilakukan, pemulihan tidak akan terjadi

Seorang instruktur kebugaran dan pelatih yang megetahui gejala-gejala ini harus menyarankan untuk di diskusikan ke psikolog olahraga atau konselor. Dalam hal ini bila ada rekasi tidak normal akibat cidera sebaiknya di rujuk ke psikolog olahraga.

D. Peran psikologi olahraga dalam cidera dan rehabilitasi

Pemulihan secara aktif, tidak adanya oprasi dan latihan beban untuk rehabilitasi adalah salah satu kemajuan dalam rehabilitasi. Psikolog memfasilitasi proses pemulihan cidera, dan pelatih/instruktur lebih mengunakan pendekatan holistic untuk menyembuhkan baik pikiran dan fisik. Memahami psikologi pemulihan cidera adalah sangat penting bagi semua yang terlibat dalam olahraga dan latihan.

1. Pemulihan Psikologi

Peneliti melakukan wawancara, menilai sikap dan pandangan, stress dan control stress, dukungan sosial, positif self-talk, imajinasi penyembuhan, penetapan tujuan dan keyakinan. Mereka menemukan bahwa atlet penyembuhan lebih cepat yang lebih mempunyai tujuan dan positif self talk dan, pada tingkat yang lebih rendah lebih lambat penyembuhannya. Selain itu faktor yang penting dalam proses rehabilitrasi adalah emosi dan motivasi atlet selama masa rehabilitasi. Atlet yang mempunyai emosi yang baik dalam hal ini mematuhi peraturan medis selama proses penyembuhan akan dapat mempercepat proses penyembuhan, motivasi atlet selama proses rehabilitasi juga mempengaruhi keberhasilan pemulihan.

Penerapan perlakuan dan pemulihan cidera

Pendekatan holistic adalah yang disarankan oleh ahli psikologi untuk pemulihan cidera atlet. Berikut langkah-langkah proses penyembuhan dan pemulihan secara psikologi.

1) Tahap cidera-penyakit

Membantu atlet menghadapi pergolakan emosi pada saat cidera.

2) Tahap rehabilitasi dan pemulihan

Membantu atlet mempertahankan motivasi dan kepatuhan terhadap aturan rehabilitasi

3) Tahap kembali ke aktifitas penuh

Kesembuhan penuh tidaklah lengkap sampai atlet kembali ke keadaan normal dalam olahraganya.

Di awal cidera atau fase penyakit, yang harus dilakukan adalah focus pada membantu menangani pergolakan emosi atlet yang cidera. Atlet mengalami kondisi stress karena tidak memahami cidera atau kondisi cidera, sehingga dokter perlu member penjelasamn kaitannya dengan seberapa parah cideranya. Tahap rehabilitasi dan pemulihan, pada tahapan ini atlet yang mengalami cidera dibantu dalam mempertahankan motivasi, dan aturan rehabilitasi. Penetapan tujuan dan mempertahankan sikap positif, terutama pada saat cidera atau kemunduran fisik. Tahap terakhir adalah kembali pada aktifitas penuh,meskipun secara fisik atlet sudah sembuh, kesembuhan belum lengkap sampai dia kembali kondisi normal dalam berolahraga. Selain itu ada beberapa hal penting yang harus dipahami, memfasilitasi proses rehabilitasi, membangun hubungan dengan atlet yang cidera, mendidik atlet tentang proses dan pemulihan cidera, mengajarkan ketrampilan psikologis, mempersiapkan atlet untuk mengatasi kemunduran, membina dukungan sosial, dan belajar atau mendorong atlet untuk belajar dari atlet lain yang cidera.

2. Membangun hubungan dengan atlet cidera

Ketika atlet cidera, mereka sering mengalami tidak percaya, frustasi, kemarahan, kebingungan, dan kerentanan. Emosi tersebut dapat menyulitkan bagi penolong untuk menjalin hubungan dengan yang cidera. Empati adalah membantu, memahami bagaimana perasaan orang yang cidera. Membangun hubungan, jangan terlalu memberi harapan dengan pemulihan cepat. Sebaiknya, bersikap positif dan pendekatan tim untuk pemulihan. Jadi perlunya kebersamaan dalam proses penyembuhan, sehingga atlet lebih termotivasi dan mempunyai pikiran positif.

3. Mendidik atlet yang cidera tentang proses dan pemulihan cidera.

Atlet yang cidera atau pertama kali cidera, biasanya belum paham tentang apa yang terjadi pada dirinya. Memberikan pemahaman secara praktis dapat membantu atlet memahami cidera, misalkan atlet gulat cidera patah tulang, seorang pelatih member penjelasan dengan sebuah tongkat yang di patahkan menyerupai apa yang terjadi pada atlet. Secara tidak langsung atlet memahami apa yang terjadi atau kondisi pada dirinya sendiri. Selain itu perlu dijelaskan pada atlet yang cidera waktu kesembuhannya, misalkan dalam waktu 3 bulan sembuh atau pulih, tidak boleh di katakan atau di jelaskan dalam 1 bulan sembuh atau pulih, karena hal ini dapat berdampak pada sikap atlet dan dapat menyebabkan kemunduran pemulihan.

4. Mengajar ketrampilan psikologis tertentu

Ketrampilan psikologis sangat penting untuk diajarkan untuk rehabilitasi kaitannya dengan penetapan tujuan, positif self-talk, imagery/visualisasi dan pelatihan relaksasi. Penetapan tujuan dapat sangat berguna untuk rehabilitasi atlet yang cidera. Penetapan tujuan dapat mengurangi waktu pemulihan atlet yang cidera. Penetapan tujuan ini kaitanya dengan kapan atlet akan kembali ke kompetisi, berapa kali perminggu untuk terapi, bentuk latihan dan lama latihan. Motivasi yang berlebih dapat menyebabkan cidera selama masa terapi, karena aktifitasnya tidak sesui aturan atau melebihi kemampuan atlet.

Self-talk atau kata hati membantu mengatasi kepercayaan yang turun selama cidera. Atlet harus belajar menghilangkan pikiran negatif mereka, dan mengantinya dengan yang realistis dan positif. Misalkan saya tidak akan pernah menjadi baik, di rubah menjadi aku merasa kecewa hari ini, tapi aku masih pada tujuan rehabilitasi, saya hanya perlu bersabar dan saya akan kembali.

Visualisasi berguna selama masa rehabilitasi. Pemain atau atlet yang cidera perlu mengimajinasikan diri mereka dalam kompetisi, atau kembali berkompetisi. Atau atlet yang cidera ototnya mengimajinasikan ototnya pulih dengan cepat. Hal ini dapat mempercepat proses rehabilitasi atlet tersebut. Jadi, mereka yang membantu dalam proses rehabilitasi cidera perlu mendorong atlet berimajinasi ketika mereka berpartisipasi/kompetisi dalam olahraga meraka.

Pelatihan relaksasi dapat berguna untuk menghilangkan rasa sakit dan stress, yang biasanya menyertai pada saat cidera dan pemulihan cidera. Atlet juga dapat mengunakan teknik relaksasi untuk memudahkan tidur dan mengurangi ketegangan.

5. Mengajarkan bagaimana mengatasi kemunduran

Rehabilitasi cidera bukan ilmu yang pasti. Setiap orang pulih pada tingkat yang berbeda, dan kemunduran hal yang biasa. Jadi, orang atau atlet yang cidera perlu belajar mengatasi kemunduran. Memberikan informasi pada atlet selama tahapan rehabilitasi terjadi kemunduran, dan pada saat yang sama mendorong atlet untuk mempertahankan sikap positif. Kemunduran adalah normal dan tidak perlu panic, jadi tidak perlu berkecil hati. Dengan demikian sasaran rehabilitasi perlu untuk dievaluasi dan didefiniskan ulang secara berkala.

6. Memupuk dukungan sosial

Dukungan sosial sangat penting untuk atlet yang mengalami cidera. Dukungan sosial ini misalkan,dukungan emosional dari teman-teman dan orang-orang terkasih, dukungan informasi dari pelatih, dalam bentuk peryataan seperti “anda berada di jalur yang benar”, dan bahkan dukungan nyata, seperti uang dari orang tua. Akan tetapi dukungan sosial ini cenderung pada saat atlet terkena cidera dan menjadi kurang saat masa pemulihan atau recovery. Berikut petunjuk pemberian dukungan sosial:

· Dukungan sosial sebagai suberdaya yang memfasilitasi. Hal ini dapat mengurangi stres, meningkatkan mood, meningkatkan motivasi untuk rehabilitasi, dan meningkatkan kepatuhan pengobatan. Dengan demikian, upaya-upaya harus dilakukan untuk memberikan dukungan sosial kepada atlet yang cidera.

· Secara umum, atlit beralih ke pelatih dan medis untuk dukungan informasi dan keluarga dan teman untuk dukungan emosional.

· Jenis dukungan sosial yang dibutuhkan atlet bervariasi di setiap tahap rehabilitasi. Sebagai contoh di fase cidera, dukungan informasi sangat penting, sehingga atlet jelas dan memahami cidera yang dialami. Pada tahap pemulihan diperlukan pelatih yang dapat membantu memotivasi dan mematuhi rencana rehabilitasi.

· Kebutuhan dukungan sosial terbesar pada saat proses rehabilitasi lambat, ketika terjadi kemunduran, atau adanya tuntutan hidup lain kaitannya dengan stress.

· Meskipun umumnya membantu, dukungan sosial dapat memiliki efek negatif terhadap atlet yang cidera. Hal ini terjadi dimana penyedia dukungan tidak memiliki hubungan yang baik dengan atlet, tidak memiliki kredibiltas di mata atlet, atau dukungan keterpaksaan dari atlet lain. Atlet melihat dukungan sosial bermanfaat ketika jenis dukungan sesuai dengan kebutuhan mereka dan penyampaian informasi yang baik bagi mereka.

7. Belajar dari atlet yang pernah cidera

Cara lain yang baik untuk membantu atlet yang cidera dalam mengatasi cidera adalah dengan memperhatikan atau mematuhi rekomendasi atlet yang pernah cidera. Berikut rekomendasi dari atlet SKI AS, untuk atlet yang cidera, pelatih, dan tim medis olahraga

1) Rekomendasi untuk atlet yang cidera

· Mepelajari badannya dan menyesuiakan diri

· Terima dan secara positif menghadapi situasi

· Fokus pada pelatihan yang berkualitas

· Mendapatkan dan mengunakan sumber daya medis

· Mengunakan sumber daya sosial bijaksana

· Menetapkan tujuan

· Merasa yakin dengan pelatih dan tenaga medis

· Melatih ketrampilan mental

· Mengunakan imajinasi

· Dan menjaga suasana yang kompetitif dan keterlibatan.

2) Rekomendasi untuk Pelatih

· Pelatih memelihara kontak dan keterlibtan dengan atlet yang cidera

· Menunjukan empati positif dan dukungan

· Memahami variasi cidera individu dan emosi saat cidera

· Motivasi dan mendorong secara optimal

· Lingkungan yang berkualitas tinggi, pelatihan individual

· Memiliki kesabaran dan harapan yang realistis

· Jangan mengulangi menyingung cidera pada saat pelatihan

3) Rekomendasi untuk medis olahraga

· Mendidik dan menginformasikan atlet pada saat cidera dan rehabilitasi

· Mengunakan motivasi sesuai dan secara optimal mendorong

· Menunjukan empati dan dukungan

· Memiliki kepribadian yang mendukung (menjadi hangat, terbuka, dan tidak terlalu percaya diri)

· Memelihara interaksi yang baik dan menyesuaikan pelatihan

· Menunjukan kemampuan dan kepercayaan diri

· Mendorong kepercayaan diri atlet

DAFTAR PUSTAKA

Weinberg. R.S & Gould. D. 2007, Foundation of sport and exercise psychology. Champaign, IL: Human Kinetics.